Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat.

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Beberapa sektor mempengaruhi melambatnya ekonomi Sulawesi Utara pada tahun ini. Selain itu perekonomian global yang melambat tercermin pada turunnya volume perdagangan dunia. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhannya pada tahun 2019 hanya 1,1% (yoy), melambat cukup signifikan dibandingkan tahun 2018 yang tumbuh 3,6% (yoy).

Volume perdagangan dunia yang melambat menyebabkan harga-harga komoditas internasional yang bergerak turun, termasuk CNO yang menjadi sumber ekspor Sulawesi Utara. Penurunan harga CNO tersebut terus berlanjut sepanjang semester I 2019.

“Harga CNO yang berada dalam tren penurunan mengakibatkan berkurangnya insentif untuk meningkatkan produksi. Hal ini berimplikasi pada terhambatnya ekspansi produksi lapangan usaha industri pengolahan yang selama ini menjadi prioritas,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat, pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Rabu (11/12).

Sejalan dengan itu, tambah Arbonas, ekspor Sulawesi Utara juga mengalami perlambatan, mengingat porsi ekspor minyak Nabati dan hewani mencakup 50%. Kinerja lapangan usaha transportasi juga mengalami perlambatan seiring terjadinya kenaikan tarif angkutan udara, dan penurunan frekuensi penerbangan dari dan menuju Manado.

“Kinerja transportasi yang melambat di tengah kontraksi lapangan usaha industri dan kontraksi ekspor menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat. Namun demikian, permintaan domestik yang masih tumbuh menguat seiring penyelenggaraan pemilu serentak, kenaikkan indikator pendapatan seperti gaji PNS, THR dan UMP, dan berlanjutnya pembangunan PSN menjadi faktor penahan perlambatan dari sisi permintaan,” papar Arbonas.

Dia menyebutkan selain penyelenggaraan pemilu, pelaksanaan berbagai event nasional di Sulut tampak mendorong pertumbuhan perdagangan, di tengah pertanian yang menguat sebagai dampak base effect sub lapangan usaha Tabama. Selain itu perikanan menjadi faktor penahan dari sisi lapangan usaha.

“Mencermati perkembangan terkini dan risiko perekonomian yang ada, kami memperkirakan untuk keseluruhan tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Sulut akan sedikit melambat dibandingkan tahun 2018, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5,8%-6,0% (yoy) atau masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here