Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com Manado – Pada Maret 2020, secara month to month Kota Manado mengalami deflasi yang cukup dalam yakni sebesar 0,9096, sementara Kota Kotamobagu mengalami inflasi sebesar 0,25. Dengan catatan itu, inflasi tahunan Manado dan Kotamobagu masing-masing tercatat sebesar 2,93% (yoy) dan 3,32% (yoy) atau relatif stabil dan masih berada dalam rentang sasaran target inflasi nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat menjelaskan deflasi Kota Manado disebabkan oleh penurunan harga-harga pada dua kelompok pengeluaran yaitu kelompok transportasi, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok transportasi memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,73% dari total deflasi Kota Manado sebesar 0,75%.

“Bila dilihat dari komoditas penyusunnya, penyesuaian tarif angkutan udara sebesar 31,30% menjadi faktor utama penyebab deflasi Kota Manado dengan kontribusi deflasi sebesar 0,75%,” ungkap Arbonas melalui keterangan persnya, Selasa (2/4).

Dipaparkan Arbonas bahwa harga komoditas bawang merah, cabai rawit, dan komoditas perikanan yang menurun pada Maret 2020 menjadi penyebab terjadinya deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. “Saat tim kami turun survey, penurunan harga cabai rawit terutama terjadi di pasar modern, sementara penurunan harga bawang merah terjadi di pasar modern maupun pasar tradisional seiring membaiknya pasokan. Selain itu, penurunan harga komoditas perikanan masih berlanjut seiring cuaca yang membaik sehingga memberikan andil deflasi yang cukup dalam di Kota Manado,” terang Arbonas.

Arbonas bilang pergerakan IHK di Kota Manado juga disumbang oleh pergerakan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Pada kelompok tersebut, tekanan infiasi berasal dari komoditas emas perhiasan yang memberikan kontribusi infiasi sebesar 0,11%. Hal ini sejalan dengah kenaikan harga emas dunia pada Maret 2020.

Berbeda dari kota Manada, pada Maret 2020 kota Kotamobagu kembali mengalami inflasi meski dengan level yang lebih rendah. Inflasi kota Kotamobagu pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,25%, lebih rendah dibandingkan inflasi Februari yang tercatat 0,37%.

“Tekanan inflasi di Kotamobagu kembali disumbangkan oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang berkontribusi sebesar 0,26% dari total inflasi Kotamobagu. Berdasarkan komoditasnya, tekanan inflasi di Kotamobagu terutama disumbangkan oleh komoditas cakalang diawetkan, daun bawang, gula pasir, ikan bubara, dan ikan cakalang yang secara total memberikan kontribusi sebesar 1,13%,” tambah dia.

Namun demikian, penurunan harga komoditas bawang merah, ikan malalugis, cabai rawit dan ikan tongkol berhasil menjaga tekanan inflasi Kotamobagu. Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara memandang positif pencapaian inflasi kedua kota di Sulawesi Utara, yang pada Maret 2020 masih bergerak dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 3,0 +_ 1 persen (yoy).

“Perlu diingat, memasuki April ini, risiko terjadinya base effect sebagai dampak pergeseran periode Ramadan dan Idul Fitri, diperkirakan akan memberikan dampak pada inflasi Sulut secara tahunan,” kata dia.

“Selain itu, risiko pembalikan arah harga di Kota Manado setelah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi serta pengaruh musiman peningkatan permihtaan menjelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HKBN), diperkirakan akan menjadi faktor pendorong tekanan inflasi pada bulan April,” sambungnya.

Dia melihat masih terdapat potensi penurunan harga, seiring kebijakan pemerintah mendorong pelaksanaan social distancing yang diperkirakan akan menurunkan permintaan dan pembatasan operasional pusat belanja dalam rangka mengendalikan wabah Covid-19, maupun melakukan penyesuaian tarif listrik bagi pelanggan 900VA ke bawah.

Di tengah potensi tekanan inflasi pada periode wabah Covid-19 dan peningkatan permintaan menjelang HBKN, kewaspadaan dan perhatian terhadap perkembangan inflasi akan tetap ditunjukkan TPID baik Provinsi maupun Kab/Kota. “Upaya pengendalian inflasi Sulawesi Utara akan dilakukan dengan tetap berpedoman pada strategi 4 K (Ketersedian pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif), serta Roadmap Pengendalian Inflasi Sulawesi Utara 2019-2021,” sebut dia.

TPID juga akan memastikan kelancaran distribusi komoditas-komoditas kebutuhan pokok, baik yang bersumber dari dalam wilayah maupun Iuar wilayah Sulawesi Utara. TPID Provinsi Sulawesi Utara bersama TPID Kabupaten Kota akan terus meningkatkan koordinasi baik dengan TPID Provinsi lain maupun nasional untuk memastikan kelancaran distribusi di tengah potensi pembatasan akses antar wilayah yang lebih ketat.

Hal ini dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan pasokan komoditas-komoditas strategis di Sulawesi Utara. Dengan pasokan yang memadai dan mudah diakses, diharapkan tidak terjadi kenaikan harga secara cepat.

“Masyarakat diimbau untuk berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Dari sisi permintaan, Bank Indonesia bersama TPID tetap memperhatikan perkembangan terkini dampak wabah Covid-19 di Provinsi Sulawesi Utara, termasuk antisipasi kenaikan permintaan kebutuhan pangan sejalan dengan sejumlah program stimulus ekonomi dan perluasan jaring pengamanan sosial yang segera diimplementasikan Pemerintah,” tukas dia. (RTG)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here