Agustin Sigarlaki sekeluarga tinggal di hutan gara-gara dikucilkan. Istimewa.

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Keluarga Lasaheng-Sigarlaki, satu keluarga asal Desa Winetin, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, terpaksa harus tinggal di dalam mobil yang diparkir di hutan. Hal ini akibat stigma masyarakat terhadap mereka yang masuk dalam kategori orang dalam pemantauan (ODP).

Suami istri Elly Lasaheng dan Agustin Sigarlaki menceritakan bahwa apa yang mereka alami kini berawal saat Dinas Kabupaten Minahasa Utara mendatangi mereka beberapa waktu lalu. Saat itu, petugas Dinas Kesehatan menggunakan peralatan Alat Pelindung Diri (APD) untuk melakukan pemeriksaan.

“Mungkin karena rumah pasien positif virus corona berjarak tak jauh dari kami makanya kami dijadikan ODP,” sebut Agustin.

Agustin bilang sejak kejadian itu, banyak perubahan yang terjadi. Warung yang dibuka keluarga ini, tiba-tiba menjadi sepi. Tidak ada satupun warga yang datang untuk membeli di warung tersebut. Padahal, warung mereka cukup ramai sebelum kejadian ini.

“Kami bingung kenapa dari pagi sampai malam tidak ada satupun orang datang belanja. Padahal, selama ini biasanya ramai terus,” terang Agustin.

Pertama dia tak berpikir ada yang aneh, namun hari-hari berikutnya mereka seperti dikucilkan dari masyarakat. Tak hanya itu, saat pembagian bantuan dari Pemerintah, hanya keluarga mereka saja yang tidak mendapatkan bantuan.

“Bahkan hukum tua di desa kami, waktu kasih tahu kami belum dapat bantuan, itu dia bicara dari kejauhan. Kami tentunya merasa sangat dikucilkan. Inilah yang kemudian muncul ide kami untuk tinggal saja di hutan, daripada terasa diasingkan,” umbar dia.

Mereka pun memilih tinggal di hutan, setelah pasien positif corona di desa mereka meninggal. Agustin mengaku, karena ketakutan, mereka akhirnya memilih untuk tinggal di hutan.

“Waktu dengar meninggal, saya ketakutan sampai menggigil dan kencing-kencing saking takutnya. Yah, karena sudah seperti itu, kami putuskan untuk tinggal di hutan saja,” cerita dia lagi.

Sementara, saat ini Agustin dan keluarganya sudah dua kali pindah tempat tinggal. Pertama di bibir sungai. Tapi, karena takut air meluap, mereka kemudian pindah ke daerah yang sedikit jauh tapi masih di area sungai tersebut.

Diceritakannya, selama tinggal di hutan, mereka belum pernah lagi meninggalkan tempat tersebut, sekalipun itu malam hari. Menurutnya, mereka masih lebih merasa tenang, karena takut dengan stigma yang nantinya diberikan.

“Ya kami disini sekaligus isolasi dulu. Nyamuk, dingin dan yang lain tentu kami rasakan. Tapi, biarlah dulu sampai kondisi membaik,” tukasnya.

Bersama dengan anak bungsunya Meilany, mereka membuka tenda di hutan serta memasangkan terpal di mobil pick up untuk tinggal, setelah mereka seperti dikucilkan oleh warga di desa tersebut. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here