Babi raksasa di Cina. Foto: Net

Oleh: Eko P

Kawanuainside.com Jakarta – Cina adalah pengkonsumsi daging terbesar dunia, termasuk babi.  Merujuk data atlasandboots.com tentang konsumsi daging dunia, posisi Cina teratas dengan konsumsi daging daily atau harian sebesar 419,6 gram per orang, diatas Australia yang sebesar 318.5 pram.

Konsumsi daging babi di Cina. Foto:BBC

Wabah African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika yang melanda Cina sejak Agustus 2018 membuat negeri komunis ini krisis daging babi dan kelabakan mencari substitusinya termasuk impor.

Mengutip BBC, sekitar 1,2 juta ekor babi dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus. Padahal, per Agustus 2018, Cina memiliki separuh populasi babi dunia. Ini karena bagi warga Cina daging babi sering menjadi makanan pokok.

Namun sejak wabah melanda, lebih dari satu juta babi telah dimusnahkan di Cina, ditambah lebih dari lima juta di Vietnam. Peternak Cina telah dijanjikan kompensasi untuk babi yang dimusnahkan senilai minimal 80% dari harga pasar.

Stok babi pun menipis hanya menyisakan sekitar 40 persen saja hingga awal Oktober ini. Akibatnya harga daging babi naik berkali lipat dan dikeluhkan masyarakat disana. Kondisi ini akan makin runyam jelang akhir tahun dan tahun baru Imlek.

Berikut fakta-fakta Virus Demam Babi Afrika yang membuat Cina kalang kabut:

– Virus Demam Babi Afrika pertama kali ditemukan di Cina tahun lalu. African Swine Fever ( ASF) atau Demam Babi Afrika telah membuat mati lebih dari 100 juta babi di Cina, sejak Agustus 2018. Kasus pada bulan Agustus 2018 menginfeksi puluhan juta babi liar seperti babi hutan, warthog, dan bushpig (Potamochoerus larvatus). Virus ini juga menginfeksi babi domestik di peternakan hingga membuat peternak merana.

– Hingga kini belum ditemukan vaksinnya.

– Meski tidak berbahaya bagi manusia, namun penyakit ini mematikan bagi babi. African Swine Fever ( ASF) merupakan virus berbahaya yang menyerang babi dengan tingkat kematian 100 persen. Tak heran penyakit ini juga dijuluki ‘Babi Ebola’.

– Selain di Cina, virus ini telah menyebar di beberapa negara Asia. Mengutip dari OIE, hampir semua negara di benua Asia sudah terkontaminasi virus ASF, seperti di Mongolia, Vietnam, Kamboja dan Hongkong, Korea Utara, Laos, Myanmar, Filipina dan Timor Leste.

– Mengutip Bloomberg, peternak babi di Cina mengakali krisis babi dengan membesarkan babi potong hingga sebesar beruang kutub, yaitu babi yang memiliki berat badan hingga setengah kuintal bahkan lebih.

Sementara itu di Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan Timor Leste kini menetapkan kesiagaan dengan menyiapkan tim reaksi cepat (TRC), untuk mencegah masuknya virus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) ke wilayah itu, melalui pintu perbatasan Indonesia-Timor Leste.

“Ada tiga tim yang terdiri dari Dinas Peternakan, Balai Besar Veteriner Denpasar dan Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian RI untuk dapat terjun langsung ke wilayah perbatasan,” kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Danny Suhadi di Kupang, Rabu (9/10).

Hal ini untuk mencegah masuknya virus demam babi Afrika yang dilaporkan telah menyerang ternak babi di negara tetangga Timor Leste.

Organisasi kesehatan hewan (OIE) mengumumkan virus Demam Babi Afrika telah menjangkiti bekas provinsi Indonesia itu pada akhir September lalu.

Sekitar seratus kasus terjadi dan membunuh 405 ekor babi milik peternak rumahan di Dili, kutip laporan lembaga itu dari Kementerian Pertanian Timor Leste.

Data sensus 2015, jumlah babi yang diternak terjangkit penyakit yang belum ditemukan obat dan antivirusnya ini mencapai 44.000 ekor. Kementerian Pertanian Timor Leste hingga kini belum menemukan bagaimana wabah ini menjangkit ternak di wilayahnya.

(RTG/EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here