Frili Pemunda sudah enam tahun terakhir mengalami sakit tumor di wajahnya

Oleh Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Frili Sisilia Pemunda, gadis asal Desa Binsil, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Luwuk Banggai Sulawesi Tengah, sudah 6 tahun terakhir ini menderita tumor di bagian wajahnya. Frili terkadang merasakan nyeri sekali. Apalagi kalau sudah masuk dingin, ia menahan sakitnya lebih mendalam

Tumor yang dialaminya semakin membesar dan sebagian wajahnya telah ditutupi oleh bengkak. Ketika berbicara, suaranya terdengar sangat lemah karena setengah bagian mulutnya tampak tertarik ke samping akibat pembengkakan tersebut.

Hampir sebulan terakhir, gadis yang lahir pada 22 September 2000 terpaksa menumpang di rumah kenalannya di Kelurahan Ranomut, Kecamatan Paal 2, Kota Manado, Sulawesi Utara, untuk mengobati sakitnya. Hal ini disebabkan rumah sakit yang jadi rujukan operasi tumor yang akan dijalaninya berada di Manado.

Saat ditanyakan awal sakitnya, Frili menuturkan awalnya tumor itu timbul di wajahnya sebelah kanan. Waktu itu, Frili masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia menganggap sepele karena benjolannya hanya sebesar kelereng.

“Waktu timbul pertama, saya merasa benjolan ini seperti bernapas. Tapi, tak terlalu dipikirkan karena dianggap benjolan biasa,” ungkap Frili kepada Kawanuainside.com, Ahad (25/8).

Namun, benjolan yang awalnya hanya sebesar kelereng itu terus membesar dan mulai menimbulkan rasa sakit luar biasa. Setahun kemudian ketika diperiksa ke dokter, benjolan itu ternyata adalah tumor. Dokter di Luwuk pun memberikan rujukan ke Makassar untuk dioperasi.

Tapi karena keterbatasan ekonomi, Frili terpaksa harus menunggu beberapa bulan dulu agar bisa menjalani pengobatan ke Makassar. Keluarganya harus mengumpulkan uang terlebih dahulu. Menurut Martha Labawo, ibunya Frili, saat itu meskipun biaya operasi ditanggung BPJS, namun mereka harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk biaya tiket dan hidup sehari-hari di Makassar.

Ayah Frili bekerja serabutan. Terkadang, ia menjalani pekerjaan sebagai buruh angkut kayu yang dibayar tergantung jumlah kayu yang berhasil diangkutnya dari dalam hutan ke jalan raya. Sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

“Tahun 2014 kami ke Makassar untuk operasi. Kami harus menjual sapi kami yang digunakan untuk bekerja, karena untuk biaya tiket dan hidup kami sehari-hari di sana kan tidak ditanggung BPJS. Waktu itu kami di Makassar lebih dari sebulan,” kata Martha.

Usai menjalani operasi pertama, tumor itu ternyata kembali lagi. Saat itu Frili sudah duduk di bangku kelas X SMA, tepatnya pada tahun 2015. Dokter pun kembali menyarankan agar anak sulung dari 3 bersaudara ini dibawa lagi ke Makassar. Sayangnya, kondisi keuangan keluarga yang tidak menentu, membuatnya terpaksa harus menunda operasi kedua.

Butuh waktu empat tahun bagi keluarga Frili untuk bisa mengumpulkan uang sekitar Rp7 jutaan sebagai bekalnya melakukan operasi. Untuk berobat, mereka kemudian lebih memilih Manado sebagai tempat rujukan. Alasannya, karena mereka lebih paham bahasa di Manado daripada Makassar.

Berbekal uang Rp7 juta tersebut, akhirnya Frili dan ibunya ke Manado dengan menumpang kapal laut hingga ke Gorontalo. Kemudian melanjutkan perjalanan 9 jam dari Gorontalo ke Manado.

Keinginan Frili untuk segera sembuh dan dapat bekerja demi membantu orang tuanya sangatlah besar. Ia merasa selain dirinya, adik-adiknya yang masih berusia 8 tahun dan 4 tahun juga butuh perhatian. Terlebih lagi selama ini, orang tuanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperhatikannya.

“Tentu saya ingin normal lagi. Mudah-mudahan operasi ini bisa berhasil dengan baik dan saya bisa sembuh lagi,” tutur Frili.

Martha mengatakan ada 2 dokter yang akan menangani Frili, yakni dokter spesialis bedah dan dokter spesialis operasi plastik yang akan kembali merestruksi wajahnya usai operasi pengangkatan tumor. Mereka berharap seluruh biaya pengobatan bisa ditanggung oleh BPJS. Meski begitu, Martha mengatakan keluarganya akan tetap berusaha mencari biaya tambahan.

“Kata ayahnya, kalau memang harus jual tanah kita akan jual karena ini demi anak. Saya di sini di Manado hanya bisa berdoa semoga operasi berjalan lancar,” sebut Martha dengan penuh harap. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here