Sulut posisi ketiga terbawah UN SMK tahun ini

Oleh Ronald Ginting |

kawanuainside.com, Manado – Hasil Ujian Nasional (UN) SMA/SMK sudah diumumkan, dan mengejutkan Sulawesi Utara (Sulut) berada di deretan terbawah nasional.

Untuk SMA di urutan 32 dari 34 provinsi, sementara SMK di urutan 31 atau ketiga terbawah secara nasional.

Gubernur Sulut, Olly Dondokambey mengakui hasil UN ada di jejeran terbawah secara nasional.

“UN kita di tiga terbawah,” kata dia kepada wartawan, Sabtu (18/5).

Tapi kata Olly, masih ada hal lain yang positif misalnya, ada satu sekolah paling banyak meluluskan siswa.

“SMA 1 paling banyak meluluskan siswa se Indonesia. Jadi beda rangking dan tingkat kelulusan, bukan tidak mencapai,” kata dia.

Dari segi kuantitas Sulut cukup besar meraih kelulusan, tapi segi kualitas memang masih di bawah daerah lain.

“Nilainya masih di bawah rata-rata,” kata dia.

Selain itu baru 2 tahun ini pemerintah provinsi memegang kewenangan menangani SMA/SMK.

Intinya banyak siswa yang lulus, tidak juga kemudian lulus sasarannya nilai tinggi.

“Kita akan tingkatkan terus pendidikan ,” ujar dia.

Kepala Dinas Pendidikan Daerah Sulut, Grace Punuh mengatakan, hasil ini akan menjadi kajian evaluasi pihaknya.

Kajian menyangkut banyak hal semisal kumpulan dari kurikulum, kompetensi, pedagogik dan profesional guru.

Kemudian supervisi manegerial dan kewirausahaan kepala sekolah, peran komite, stakeholder dan kesejahteraan guru.

Ia mengatakan, yang dilakukan pihaknya yaitu percepatan pelaksanaan bukan hasil.

“Apa yang dikerjakan sekarang hasilnya akan kelihatan 4 atau 5 tahun ke depan,” kata dia.

Kemudian perbaikan semisal rekrutmen guru. Sekarang sistem rerkutmen guru sudah tepat dengan seleksi tidak asal-asal lagi.

Guru naik pangkat ataupun urus berkala, tidak perlu lagi ke Dikda dan meninggalkan ruang kelas.

Ditambah lagi peningkatan sarana dan prasarana, semisal dibuatnya asrama siswa, SMK ada program revitalisasi dan sebagainya.

“Semua aspek guru murid orangtua harus dilihat. Siswa belajar di sekolah berapa jam, etos kerja guru hak dan kewajiban guru harus seimbang,” ujar dia.

Selain itu, ia menilai Dikda perlu tim yang solid. “Saat ini belum maksimal,” kata dia.

Menurutnya UNBK di Sulut mulai tahun 2017, hanya diikuti 20 persen sekolah.

UNBK 2018 diikuti 94 persen sekolah, kemudian UNBK 2019 diikuti 100 persen.

“Sebelum 2017 ujian nasional pakai kertas dan pensil,” kata dia.

Grace menegaskan UN bukan segala-galanya tapi integritas dan kejujuran semakin baik

“Karena dengan UNBK siswa tidak bisa saling tanya, karena berbeda soal walau duduk berdekatan,” ujar dia.

Ia janji ke depannya hasil UN akan lebih ditingkatkan. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here