Empat korban perdagangan manusia saat dibina oleh Kepala Dinas PPPA Sulut, Mieke Pangkong. Foto: Istimewa

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Empat korban dugaan perdagangan manusia di Sulawesi Utara tinggal sementara di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Utara selama tujuh hari lamanya. Keempat korban itu ialah RT (28), IS (19), AD (16), dan DT (16).

RT adalah seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya pernah bekerja sebagai sopir ojek daring. IS adalah seorang ibu muda yang sudah bercerai. Sementara AD, dan DT adalah remaja yang sudah putus sekolah sejak SMP dan baru akan mulai bekerja ke Papua. Mereka berempat berdomisili di Kota Manado.

Keempatnya bakal menjalani pemeriksaan dari Polresta Manado dan juga akan mendapatkan pembinaan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sulawesi Utara. Kepada Kepala Dinas PPPA Sulut Mieke Pangkong, Senin (20/1), keempat korban ini mengaku menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Namun di satu sisi, mereka bersyukur tidak jadi diterbangkan ke Papua Barat untuk bekerja di salah satu tempat hiburan malam.

“Bersyukur juga bisa sampai di P2TP2A. Kalau kami sudah di Papua, belum tahu nasib kami seperti apa,” ujar keempat korban.

Mereka mengaku baru saling mengenal saat sudah di mobil menuju ke bandara Sam Ratulangi Manado. Rencananya, Sabtu (18/1) mereka akan diberangkatkan dengan pesawat pertama menuju Sorong.

“Setelah tiba di Sorong, kami bakal lanjut lagi ke Bintuni menggunakan kapal laut. Kurang lebih satu hari lagi baru tiba di sana,” jelas mereka.

Ketika ditanyakan asal muasal ketertarikan untuk bisa berangkat ke Papua, mereka menjawab ada muncikari yang mengiming-imingi dengan gaji sebesar Rp4 juta perbulan. Sementara pekerjaannya hanya menemani pengunjung.

“Tidak dibilang nama tempatnya, tapi cuma dibilang kalau di sana perhari bisa dapat Rp1 juta untuk tipsnya. Terus kami rencananya dikontrak tiga sampai empat bulan. Makanya kami tertarik,” jelas mereka.

Dari pengakuan mereka terungkap juga kalau muncikari sudah ada yang memberikan uang muka Rp2,5 juta kepada salah satu korban. Dan setelah itu dipaksa untuk mengikuti kemauan muncikari.

Tak lama kemudian, IS, AD, dan DT diinapkan selama dua hari di rumah salah satu keluarga muncikari yang kata mereka ada di sekitar Manado Utara. Sementara RT baru bergabung saat hendak ke bandara.

“Pokoknya dari proses rekrutan ada dua orang yang terlibat. Kemudian saat diinapkan ada beberapa lagi yang terlibat,” tutur mereka.

Habis diinapkan itu, mereka langsung menuju ke bandara untuk diberangkatkan ke Sorong, Papua. Saat kendaraan Avanza yang mereka tumpangi baru sampai di bandara, polisi dari Polresta Manado langsung menahan mereka.

“Baru buka satu pintu mobil, eh polisi langsung tahan. Dan telepon seluler kami langsung diminta juga sama polisi. Proses penanahannya cepat sekali, kami seperti bengong-bengong begitu,” sebut mereka.

Kepala Dinas PPPA Sulut Mieke Pangkong sangat menyayangkan kejadian ini. Kata Mieke kejadian modus seperti ini sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan perdagangan orang.

“Dari proses perekrutan sampai kepada proses keberangkatan, boleh dikategorikan sebagai tindak perdagangan orang,” ujar Mieke.

Dia menuturkan pihaknya akan memanggil juga pihak keluarga, apakah ada keterlibatan keluarga dalam upaya dugaan perdagangan manusia tersebut. “Bila terlibat, kita bisa pidanakan juga anggota keluarga mereka itu,” tegas dia.

Disebutkan Mieke juga bahwa pelaku atau dalang sesungguhnya dari kejadian itu harus dicari dan diproses hukum. Mengingat kasus trafficking ini sudah melanggar hak asasi manusia. “Kami mengharapkan sinergitas Polresta Manado, Dinas PPPA dan P2TP2A Sulut untuk bisa mengungkap dalang kejadian itu,” tegas dia lagi.

Di satu sisi dia mengimbau agar seluruh masyarakat Sulut tidak terpukau dengan berbagai tawaran menggiurkan. Apalagi dengan embel-embel pekerjaan mendapatkan gaji sangat besar.

“Mereka yang lemah ekonomi dan juga belum ada pekerjaan sering menjadi sasaran. Makanya kami minta jangan mudah mengiyakan tawaran oknum-oknum yang berusaha melakukan trafficking,” tukasnya.

Selama ditampung di P2TP2A, jelas Mieke, korban didampingi dan diedukasi oleh konselor dan juga tokoh agama. Korban juga akan diberikan pencerahan agar tidak melakukannya lagi di kemudian hari. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here