Peneliti senior LIPI Siti Zuhro (kanan) Foto: Ahmad Z.R/Indonesiainside

Oleh: Ahmad ZR

Kawanuainside.com, Jakarta – Pengamat senior LIPI, Prof Siti Zuhro menilai, keberhasilan Bambang Soesatyo (Bamsoet) meraih kursi ketua MPR dapat dikatakan sebagai kemenangan Partai Golkar di parlemen. Padahal, kata Zuhro, seyogyanya MPR diduduki oleh partai yang tidak berkoalisi dengan pemerintah.

“MPR adalah wadah untuk meredam disharmoni di tengah masyarakat karena banyak daerah juga yang diwakilinya. Maka, MPR juga menjadi penyeimbang dari tatanan demokrasi yang sedang berjalan,” kata Zuhro dalam sebuah diskusi di bilang Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10).

Zuhro menilai, meskipun ketegangan dan perbedaan terjadi sangat mencolok dalam setiap konstitusi, namun bangsa Indonesia punya legacy panjang. Sejak zaman Soekarno, setiap pertikaian politik dapat berakhir dengan baik dan dewasa.

“Seperti Pemilu 2019, semuanya dalam keadaan luar biasa menghadapi Pemilu 2019, tapi tidak sampai terjadi konfrontasi sangat tajam. Nah, saya melihat meskipun mayoritas penduduk kita Islam, tapi moderat,” katanya.

“Tentu dengan moderasi seperti itu perubahan-perubahan yang kita inginkan tidak revolusioner tapi evolusioner,” ujarnya melanjutkan.

Mengenai pertemuan Prabowo-Jokowi yang semakin intens, ia menganggap hal itu sering terjadi usai pemilu, dimana masing-masing partai berdiaspora mencari mitranya. Sebab, politik Indonesia masih tergolong politik kekuasaan bukan politik ideologi.

“Wacana Gerindra gabung ke Jokowi dan mesranya Prabowo-Jokowi bukan hal yang baru, dimana tadinya head to head kemudian dapat lebih akrab lagi. Inilah khas ketimuran bangsa Indonesia,” ujar dia. (RTG/PS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here