Ilustrasi hoaks. Foto: Istimewa

Oleh: Icheiko Ramadhanty

Kawanuainside.com, Washington DC – Para pengamat teknologi informasi (TI) Amerika memuji kecerdasan Pemerintah Indonesia dalam menangkal berita hoaks di tengah pesatnya informasi global. Hal itu mereka ungkapkan dalam forum media digital yang digelar di Kota Washington DC, pekan lalu.

Dalam forum tersebut, para pengamat TI Amerika merasa optimistis setelah melihat mekanisme Indonesia untuk memerangi berita bohong. Janet Stell dari University of George Washington mengatakan, orang yang ingin mengecek berita itu fakta atau hoaks adalah orang yang skeptis dan melek media.

Menurut Janet, kebanyakan orang hari ini akan membagikan berita tanpa mengecek dulu kebenarannya. “Organisasi berita yang saya lihat di sini adalah cek fakta yang dibentuk oleh beberapa organisasi berita di Indonesia. Mereka melakukan pekerjaan luar biasa dalam mengecek fakta dan membongkar berita-berita palsu,” katanya kepada Voice of America di Washington DC.

Di satu sisi, Janet juga mengkritik cara Pemerintah Indonesia dalam memberantas pemberitaan hoaks dengan cara pembatasan sambungan internet ataupun melalui alat perangkat undang-undang. Mereka menganggap kebijakan tersebut justru membatasi kebebasan warga negara untuk berpendapat.

Janet mengatakan, dia tidak ingin Pemerintah Amerika nantinya melibatkan diri dalam menentukan suatu hal sebagai disinformasi hanya karena tidak menyukai konten berita. “Jangan membuat UU untuk meredam hoaks, tetapi tekan facebook, dan perusahaan serupa untuk meregulasi platform mereka sendiri,” ujarnya.

Pengamat lain yaitu Adam Paul D Third dari University of Southern California, menilai adanya lembaga pemerintah yang melakukan upaya untuk meredam polarisasi tentang hoaks. “Contohnya, KPU meluncurkan pusat myth buster yakni Bawaslu, yang mendapat mandat untuk menanggapi dan mengantisipasi pelanggaran pemilu,” ujarnya pada satu diskusi panel yang berbeda di Amerika.

Adam mengatakan, Bawaslu membuat deklarasi untuk menangkis dan melawan pembelian suara, penghinaan, penghasutan, dan konflik yang memecah-belah Indonesia. Menurut Adam, hal ini belum dilakukan di Amerika. Namun, saat ini dia sedang mengupayakan untuk bekerja sama dengan pemerintah lokal dan negara bagian untuk menangani isu serupa dengan yang terjadi di Amerika.

Dia pun melihat ada negara lain yang menghadapi isu hoaks dengan cara lebih buruk. Akan tetapi, Adam menyampaikan, meski efek negatif dari perkembangan ekonomi digital yang pesat meresahkan banyak kalangan, dia optimistis bahwa itu akan teratasi dengan semangat warga Indonesia untuk menyuarakan pendapat mereka. (RTG/AIJ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here