Masker batik Sizzy Matindas dengan motif kebudayaan Sulut

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Terbeban dengan sulitnya masyarakat mendapatkan masker di tengah merebaknya virus covid-19, membuat pebatik asal Sulawesi Utara, Sizzy Matindas bikin masker motif batik. Dan menariknya, masker yang dibuatnya lebih banyak diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang mrmbutuhkan.

Sizzy mengatakan awalnya dia membuat masker dari kain sisa jahitan. Motifnya pun tetap konsisten menggambarkan kebudayaan Sulut.

“Awalnya dari kain sisa jahitan, tapi kini sudah menggunakan kain baru. Paling bagus kalau motif-motic kecil supaya kelihatan gambarnya. Saya buat motifnya khas Sulut seperti motif bia-bia (kerang), motif pohon kelapa, cingkeh (cengkih), rumah Minahasa, dan biji pala,” ujar Sizzy kepada Kawanuainside.com Manado, Sabtu (4/4).

Menurut Sizzy, sudah lebih dari 1.500 masker yang dia buat. Bahkan banyak juga yang memesan dari luar Sulut.

“Banyak yang pesan dari luar Sulut seperti Makassar dan Papua. Nah, kalau pesanan saya minta ongkos jahitnya saja, kainnya gratis. Karena kebanyakan yang pesan untuk disumbangkan ke saudara atau karyawan mereka,” jelas Sizzy.

Dia bilang apa yang dilakukannya saat ini untuk membantu juga jasa penjahit maskernya tersebut. “Kasihan lagi kondisi begini mereka sepi orderan. Ya semoga ini bisa membantu mereka,” harap dia.

Diketahui, Sizzy Matindas selama ini dikenal batiknya dengan konsep Batik Bercerita. Ide pertama mengenai Batik Bercerita ini, saat 6 tahun lalu artis Ruth Sahanaya menyanyikan salah satu lagu daerah Sulawesi Utara. Dari situlah, Sizzy memutuskan untuk menceritakan kebudayaan Sulut di batik yang dibuatnya.

“Lewat gambar dan warna di batik, saya tanamkan kekayaan alam dan budaya Sulut. Yang pasti, gambarnya tidak akan menyimpang dari nilai kebudayaan itu sesungguhnya. Karya kontemporer yang saya lakukan ini menggunakan canting dan malam,” jelas Sizzy.

Sizzy menceritakan bahwa saat ini karyanya sudah ada sebanyak 150 motif, dan banyak yang sudah memesannya. Ada yang dari Papua, Medan, sampai ke luar negeri.

“Banyak yang langsung menghubungi saya, ada yang juga memesan secara daring. Sejauh ini untuk luar negeri, banyak yang memesan dari Amerika Serikat. Saya senang karena lewat batiknya ini dunia bisa melihat keindahan Sulut,” ungkap dia.

Di Manado sendiri, Sizzy sudah membuka semacam butik di Jalan Diponegoro. Hasil karya batiknya yang menarik bisa Anda lihat di gerai tersebut.

“Iya di sini sudah kurang lebih 4 tahun. Yang datang bisa lihat dan membeli langsung hasil karya saya ini,” ucapnya.

Sebelum menekuni dunia batik, Sizzy mengawali karirnya sebagai full interior designer. Dia akhirnya terjun membuat batik pada 2014 karena tertantang untuk menciptkan designer lokal yang mumpuni.

“Saya mensasar juga usia dini untuk mengembangkan bakat mereka. Sudah ada beberapa yang mencoba, dan akan dikembangkan secara konsisten,” sebutnya.

Menurutnya, siapa lagi yang bisa mengembangkan minat bakat usia dini jika bukan dimulai dari pribadi masing-masing. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here