Bagi masyarakat suku Tengger, Gunung Bromo adalah simbol agung singgasana Sang Hyang Widhi (sebutan untuk Tuhan yang Maha Esa di agama Hindu Dharma). Foto: Pegipegi

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Menurut sejarah, mereka merupakan para pengungsi pada masa Kerajaan Majapahit

Kawanuainside.com, Jakarta — Bagi Anda yang pernah datang ke gunung api setinggi 2.392 meter ini, Anda pasti tahu bahwa Gunung Bromo dikelilingi oleh hamparan pasir serta pemandangan matahari terbit yang indah. Inilah yang menjadi daya tarik dari Gunung Bromo. Namun jika berbicara mengenai Gunung Bromo, tahukah Anda apa itu Suku Tengger?

Suku Tengger merupakan penduduk asli yang tinggal dan hidup di sekitar Gunung Bromo. Berbeda dengan penduduk Jawa Timur lainnya, Suku Tengger memiliki kepercayaan, bahasa, dan budaya yang unik dan kontras.

Namun tidak lengkap rasanya apabila membahas Gunung Bromo tanpa mengenal penduduk asli yang hidup di sekitarnya, Suku Tengger. Berbeda dengan penduduk di Jawa Timur kebanyakan, Suku Tengger memiliki kepercayaan, bahasa, serta kebudayaan yang unik dan kontras. Tradisi yang berkembang di kalangan Suku Tengger berkaitan erat dengan Gunung Bromo. Bisa dikatakan, antara Gunung Bromo dengan Suku Tengger memiliki sebuah ikatan mistis yang saling menghidupi satu sama lain.

 

Yadnya Kasada, Wujud Janji Masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo Kepada Sang Hyang Widhi. foto: Maioloo.com

Asal-Usul Nama Tengger
Terdapat beberapa pandangan yang menjelaskan tentang asal-usul dari nama “Tengger”. Pendapat pertama mengatakan bahwa istilah “Tengger” berarti pegunungan yang notabene menjadi tempat tinggal mereka. Pandangan berikutnya menyatakan bahwa istilah “Tengger” berasal dari kalimat ‘Tenggering Budi Luhur’ yang berarti budi pekerti yang luhur, menggambarkan watak Suku Tengger yang seharusnya. Hingga pandangan terakhir mengatakan bahwa nama “Tengger” merupakan kata gabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, nama leluhur Suku Tengger.

Di dalam bukunya yang berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, Robert W. Hefner menjelaskan bahwa orang-orang Suku Tengger merupakan keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-16, Kerajaan Majapahit yang mulai melemah mengalami serangan dari kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah. Menyelamatkan diri dari invasi, sebagian masyarakat Majapahit mengungsi menuju Pulau Bali, dan sebagian lainnya memilih untuk menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Orang-orang inilah yang kelak dinamakan sebagai Suku Tengger.

Di kalangan Suku Tengger sendiri, berkembang sebuah legenda yang menceritakan tentang sejarah leluhur mereka. Tersebutlah Roro Anteng, putri pembesar Kerajaan Majapahit, dan Joko Seger yang merupakan putra dari seorang brahmana. Roro Anteng dan Joko Seger kemudian menikah dan mereka turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger. Di sanalah kemudian mereka menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger. Keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger inilah yang kelak menjadi Suku Tengger di Jawa Timur.

Kondisi Sosial Yang Unik
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, para leluhur Suku Tengger merupakan pengungsi yang terisolasi di Pegunungan Tengger. Kondisi mereka yang tidak tersentuh oleh peradaban luar selama bertahun-tahun itulah yang kemudian berdampak pada kondisi sosial Suku Tengger. Berbeda dengan peradaban Jawa lainnya yang telah didominasi oleh ajaran Islam, Suku Tengger masih mempertahankan kepercayaan para leluhurnya dari Majapahit.

Para leluhur Suku Tengger menganut aliran kepercayaan Siwa-Budha yang kemudian berkembang menjadi agama Hindu seperti yang dipegang oleh Suku Tengger kini.

Demikian juga dengan bahasa. Suku Tengger memiliki dialek yang berbeda dengan Bahasa Jawa yang berkembang di era modern. Mereka masih menggunakan dialek Bahasa Kawi dan terdapat beberapa kosakata Jawa Kuno yang sudah tidak lagi digunakan oleh penutur Bahasa Jawa lainnya. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang Suku Jawa mengalami kesulitan dalam memahami Bahasa Tengger.

Tidak hanya itu, Suku Tengger juga memiliki sistem penanggalan tersendiri di samping penanggalan Masehi. Mereka menggunakan sistem penanggalan Tahun Saka yang mengadopsi dari sistem penanggalan Hindu. Karena itulah, sistem penanggalan Suku Tengger mirip dengan penanggalan tradisional Jawa maupun Bali. Dalam satu tahun, terdapat dua belas bulan.

Nama-nama bulan tersebut antara lain Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Kasadha. Dalam satu bulan terdapat tiga puluh hari. Sistem penanggalan inilah yang berguna untuk menentukan pelaksanaan upacara-upacara adat Suku Tengger.

Mata Pencaharian
Saat ini sebagian besar masyarakat Tengger bertahan hidup dengan bertani di ladang. Hasil dari pertaniannya adalah kubis, wortel, kentang, tembakau dan jagung. Selain menjadi petani, masyarakat Tengger juga ada yang menjadi pemandu wisata Gunung Bromo. Suku tengger sendiri pada dasarnya bermata pencaharian petani hortikultura.

Lahan yang digunakan adalah llereng-lereng pegunungan yang ada di Gunung Tengger sendiri, Tempat ini tidak digunakan untuk tempat bertanam padi. Pertanaian di Tengger ini cocok untuk bertani tanaman sayur mayur dan ubi ubian. Tanah pertanian yang berbukit-bukit curam, dengan kemiringan sampai lebih dari 45 derajat , diolah dengan sistem terasiring. Sistem ini memungkinkan, petani suku Tengger melakukan usaha budidaya tanaman. Tidak ada alat teknologi pertanian yang dipergunakan, selain cangkul dan sabit.

Upacara Adat Yadnya Kasada
Menurut legenda setempat, Roro Anteng dan Joko Seger bertapa di Gunung Bromo memohon keturunan kepada Tuhan. Mereka juga berjanji akan mengorbankan anak bungsunya ke Gunung Bromo jika mereka dikaruniai keturunan. Doa mereka akhirnya dikabulkan dan mereka memiliki 25 anak. Namun Raden Kusuma sebagai putra bungsu tak kunjung dikorbankan. Hal inilah yang membuat Gunung Bromo murka hingga kerelaan Raden Kusuma untuk mengorbankan diri mampu meredakan amarah Gunung Bromo.

Selain unik, Suku Tengger juga dikenal kaya akan tradisi dan serangkaian upacara-upacara adat. Salah satu upacara yang terkenal adalah Yadnya Kasada. Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 14 bulan Kasadha. Di dalam upacara Yadnya Kasada, masyarakat Suku Tengger berdoa kepada Tuhan serta menyerahkan kurban berupa hewan ternak dan hasil tani seperti sayuran dan buah-buahan menuju kawah Gunung Bromo. Upacara tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan dan berkah.

Selain itu, Yadnya Kasada juga menjadi ajang peringatan bagi Suku Tengger untuk mengenang pengorbanan Raden Kusuma, putra bungsu Roro Anteng dan Joko Seger.

Kini, Yadnya Kasada menjadi upacara adat Suku Tengger yang mampu menarik minat para wisatawan. Momen tersebut berkontribusi pada banyaknya jumlah wisatawan yang mengunjungi Gunung Bromo. Tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah, wisata di Gunung Bromo juga dihidupkan oleh tradisi dan keunikan Suku Tengger yang masih lestari hingga kini. (Kbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here