Kepala BPS Sulut Ateng Hartono

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Di luar dugaan secara dua bulan berturut-turut (Oktober-November 2019), Sulawesi Utara menjadi daerah tertinggi angka inflasinya. Bila Oktober 2019 di angka 1,22%, pada November 2019 melambung jauh ke angka 3,30%.

Angka tersebut sebagaimana disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara Ateng Hartono di Kantor BPS Sulut, Senin (2/12).

Ateng menjelaskan secara inflasi tahun kalender menjadi sebesar 5,5% dan secara year on year sebesar 6,32%. “Inflasi November ini disebabkan adanya peningkatan indeks pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 13,61%, kelompok kesehatan sebesar 0,37%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,12%, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,01%,” ujar Ateng.

Dijelaskan Ateng bahwa tomat sayur masih menjadi momok bagi Sulut, karena harganya yang masih melambung. Secara presentase, tomat menyumbang inflasi 3,4102%.

“Komoditi lain yaitu lemon (0,1117%), bawang merah (0,0673%), jeruk nipis (0,0595%) dan beberapa komoditi lainnya,” papar Ateng.

Dia menambahkan bila dibandingkan juga dengan daerah lainnya se-Sulawesi, Sulut mengalami inflasi paling dalam. “Setelah Sulut ada Bau-bau (0,87%), sementara Kendari satu-satunya yang mengalami deflasi di Sulawesi,” terangnya.

Sementara itu untuk angka inflasi nasional, pada November 2019 menyentuh angka 0,14%. Dari angka itu, menyebabkan inflasi tahun kalender 2019 berada di angka 2,37% dan secara y on y berada di angka 3,00%.

Selain Sulut ada 57 daerah lain yang mengalami inflasi. Sementara 25 daerah mengalami deflasi. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here