Oleh: Muhajir

Kawanuanside.com, Jakarta – Pengamat politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto, menilai Presiden Joko Widodo alias Jokowi adalah kepala negara yang paling membingungkan. Terutama dalam isu pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Presiden ini mudah ngeles. Misalnya dalam kasus kriminalisasi Abraham Samad dan Bambang Widjayanto, termasuk juga terpilihnya Firli. Dalam semua perkara itu presiden cuci tangan. Terus menerus mengatakan bahwa semua sudah sesuai prosedur. Presiden tidak melihat subtansi,” kata dia di Jakarta, Jumat (13/9).

Dalam kasus Abraham Samad dan Bambang Widjayanto, Jokowi beralasan tak mau ikut campur dalam urusan penegakan hukum. Padahal, dia memiliki kekuasaan untuk semua sudah diserahkan ke Pansel dan dipilih oleh DPR. Presiden seolah-olah tidak memiliki peran apapun kalau kemudian yang tetpilih adalah komisioner buruk.

Dia menjelaskan bahwa yang menyebabkan Jokowi inkonsisten, apologotik, dan ambigu karena dia tersandera oleh kekuasaannya. Begitu menjadi presiden, agenda pertama jokowi adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan.

“Tidak ada satu pun presiden Indonesia dari tahun 1999 sampai hari ini yang mampu bertahan tanpa menjadi akomodatif,” kata dia.

Dia mengatakan, presiden yang paling rendah tingkat akomodasinya adalah Gus Dur. Namun, Gus Dur selesai di tengah jalan.

Kekhawatiran Jokowi kehilangan kekuasan membuat dia menyanderakan dirinya kepada partai politik yang punya kursi di DPR. Namun, untuk mempertahankan kekuasan, Jokowi justru mengorbankan rakyat.

“Celakanya, untuk bisa bertahan di kekuasan. Yang dilakukan Jokowi adalah mengorbankan kita semua,” ujarnya.(RTG/EP)

.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here