Varian rasa Christine Klappertaart. Istimewa.

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Menjadi seorang pengusaha harus tahan uji dari segala rintangan. Selain itu jangan pernah berhenti berinovasi dalam mengembangkan usahanya.

Hal inilah yang ditanamkan oleh Elsje Crestine Sumangkut, pemilik Christine Klappertaart dalam menjalankan usahanya di Manado. Christine, panggilan akrabnya, mengaku saat mengawali bisnisnya ini pada tahun 2011, banyak tantangan yang dia hadapi.

“Usaha saya dulu itu sempat buka tutup. Tapi bersyukur yak pernah putus ada untuk berinovasi,” sebut Christine kepada Kawanuainside.com.

Kini klappertaart yang diolahnya dapat dikatakan menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara. Outletnya pun sudah ada empat, yakni di Tikala, Kairagi, dan dua di Bandara Sam Ratulangi Manado.

Dia menyebut usahanya ini berawal dari pemikirannya yang selalu bingung mau bawa oleh-oleh khas Manado apa untuk diberikan ke saudara di luar Sulut. Saat itu terlintaslah untuk mengolah klappertaart yang nantinya bisa menjadi oleh-oleh kebanggaan Sulawesi Utara.

“Kami buka pertama di Kairagi, dengan menjual klappertaart rasa original. Selain itu kami menerima pesanan dari pembeli melalui telepon,” jelas Christine.

Dari situ, pembeli mulai memberikan masukan untuk bisa membuat rasa yang baru dari klappertaartnya. Pelan tapi pasti beberapa rasa yang baru semakin disukai oleh pembeli.

“Sekarang kita sudah punya 10 varian rasa, cokelat, keju, blueberry, strawberry, durian, nutela, cappucino, matcha, dan original. Untuk original ada dua varian lagi, yakni yang tidak pakai rum dan yang menggunakan rum,” sebutnya menambahkan.

Sejauh ini baru Christine Klappertaart yang memiliki 10 varian rasa tersebut. Pengalaman Christine pun pada saat ini tak boleh diragukan, sebab usahanya ini pernah mengikuti salah satunya pameran pariwisata terbesar se-dunia di Berlin, Jerman, beberapa tahun lalu.

Selain itu, pembeli Christine Klappertaart ada yang berasal dari luar negeri. “Untuk kemasan, kita buat sebaik mungkin agar pembeli visa menikmati secara utuh pesanannya ini,” ujarnya.

Christine juga selalu belajar untuk mengembangkan usahanya itu. Tak jarang dia mengikuti cooking class agar bisa berinovasi mengolah klappertaart.

“Selain saya masuk kelas, saya juga membuka kelas bagi pemula yang hendak mencoba menjadi pengusaha kuliner. Intinya saya tidak mau pelit ilmu,” ucapnya sambil tersenyum.

Daya tahan klappertaart ini, kata Christine, bisa bertahan 20 jam jika tidak masuk dalam kulkas. Namun bila dimasukkan ke dalam pendingin, daya tahannya bisa sampai lama hari.

Oh iya, selain klappertaart, Christine kini tengah mengembangkan juga produk olahan lainnya, yaitu sambal roa, dan sambal cakalang. “Potensi daerah kita ini harus dikembangkan,” imbuhnya mengakhiri. (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here