Wakil Ketua Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Charles-Michel Geurts. Foto: Icheiko Ramadhanty/Indonesiainside.id

Oleh: Icheiko Ramadhanty

Kawanuainside.com, Surabaya – Uni Eropa mendukung penguatan kapasitas dan inovasi riset di Indonesia. Sebagai salah satu bentuk dukungan itu, Uni Eropa mengadakan kerja sama riset antara Eropa dan ASEAN melalui EURAXESS ASEAN.

“EURAXESS ASEAN adalah inisiatif unik yang menghubungkan para peneliti di ASEAN dan Eropa dengan memberikan layanan informasi serta dukungan yang memungkinkan para peneliti untuk mengembangkan karier penelitian mereka di Eropa, atau; bekerja dengan mitra penelitian Eropa,” kata Regional Representative EURAXESS ASEAN, Simon Grimley, di Surabaya, Selasa (29/10).

Dia menuturkan, program yang difasilitasi oleh EURAXESS ASEAN tersebut bertujuan agar para peneliti Indonesia terdorong untuk menghasilkan penelitian yang berstandar internasional. Selain itu, para periset Indonesia diharapkan bisa berkontribusi bagi ilmu pengetahuan di Tanah Air lewat hasil penelitian yang dapat diterapkan.

Simon mengatakan, Uni Eropa telah lama mempromosikan kerja sama internasional dalam kegiatan riset yang berfokus pada masyarakat dan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan kompetitif. Pada kesempatan tersebut, perwakilan dari lembaga pendanaan penelitian di Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol berbagi informasi tentang keunggulan penelitian di Eropa.

Mereka turut serta memberikan saran tentang cara menyiapkan proposal penelitian yang baik. Mereka juga mempresentasikan berbagai peluang pendanaan penelitian bagi masyarakat Indonesia, termasuk program Marie Skłodowska-Curie Fellowship yang menawarkan peluang pengembangan karier yang sangat baik bagi para peneliti Indonesia di semua tahap.

“Kolaborasi penelitian internasional merupakan kerja sama yang sangat penting. Eropa, Indonesia, dan ASEAN perlu bekerja sama untuk mengembangkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, keamanan pangan, energi dan penyakit menular,” kata Wakil Ketua Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Charles-Michel Geurts.

“Ribuan mahasiswa dan peneliti dari Indonesia dan ASEAN, telah mendapat manfaat belajar di lembaga pendidikan tinggi dan memperoleh beasiswa riset di Eropa, melalui program-program seperti Erasmus Plus, Horizon 2020, dan skema pendanaan bilateral lainnya,” ujarnya.

Charles menyampaikan pentingnya landasan yang kuat untuk dapat menghasilkan penelitian ilmiah yang berbobot. Dia juga mengatakan, Indonesia perlu memelihara budaya keunggulan ilmiah, menggerakkan mobilitas internasional, serta kegiatan penelitian kolaboratif yang merupakan kunci dari upaya tersebut. “Penelitian ilmiah membutuhkan keahlian, inovasi, dan sumber daya yang mumpuni,” tuturnya. (RTG/AIJ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here