Cerah Bangun

Oleh: Ronald Ginting

Kawanuainside.com, Manado – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Kanwil DJBC Sulbagtara) mengaku ada peningkatan penerimaan kepabeanan dan cukai sepanjang 2019. Kepala Kanwil DJBC Sulbagtara Cerah Bangun, menjelaskan total bea dan cukai yang diterima sepanjang 2019 di wilayah kerja Sulbagtara yakni sebesar Rp518.679.325.123 atau meningkat 33,27%.

“Bea masuk kita sebesar 327,9 miliar rupiah, bea keluar 168,8 miliar rupiah, dan untuk cukai 21,8 miliar rupiah,” kata Cerah kepada Kawanuainside.com di ruang kerjanya, Selasa (14/1).

Cerah menambahkan dari enam Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C yang ada di Sulbagtara, semuanya melebihi target yang ditetapkan. Di Pantoloan, dari target penerimaan Rp7,6 miliar, keseluruhannya mencapai Rp9,9 miliar (129,33%). Selanjutnya Morowali dari target Rp399,9 miliar, tahun 2019 kemarin berhasil mencapai Rp463,5 miliar (155,91%).

“Luwuk mendapatkan penerimaan sebesar Rp2,9 miliar (104,34%), Bitung Rp17,9 miliar (122,76%), Manado Rp24,04 miliar (119,79%) dan Gorontalo sebesar Rp306,2 juta (112,21%). Hasil itu menunjukan presentase pencapaian keseluruhan tahun ini sebanyak 116,13%,” tambah Cerah.

Dia mengungkapkan keenam wilayah kerjanya juga berhasil melampaui 100% dalam hal penerimaan bea masuk, bea keluar, dan cukai. “Syukur kerja keras setahun kemarin mampu terealisasi di penerimaan,” tukas dia.

Khusus untuk cukai dari hasil tembakau, KPPBC TMP C Luwuk mampu menerima sebanyak Rp134,6 juta, sementara KPPBC TMP Gorontalo menerima Rp56 juta. “Untuk Luwuk atas hasil operasi pasar, dan di Gorontalo dari pabrik tembakau yang ada di sana,” sebutnya.

“Kalau untuk cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA), di Manado menerima Rp19,8 miliar. Di kota yang sama juga menerima denda administrasi cukai sebesar Rp1,1 miliar serta cukai lainnya senilai Rp49,2 juta,” lanjutnya.

Secara keseluruhan, sebutnya, devisa impor yang dihasilkan di Kanwil DJBC Sulbagtara sebesar US$3,39 juta (sekitar Rp47,5 miliar), devisa ekspor US$8,86 juta (sekitar Rp124 miliar). Dengan demikian menghasilkan surplus senilai US$5,46 juta (sekitar Rp76,5 miliar). (RTG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here